Google Web Search Gadget

!-- DahsyAd - ad code starts -->

Jumat, 25 November 2011

Apakah laba mengukur kinerja perusahaan ?

Apakah Laba Mengukur Kinerja Perusahaan ?

1. Laba Mengukur Kinerja Perusahaan Perusahaan yang Go publik.
Perusahaan yang go publik, adalah perusahaan yang sudah diaudit oleh akuntan publik dan dinyatakan sebagai perusahaan yang sehat. Kinerja perusahaan berjalan dengan baik, yang berdampak baik pada masa depan perusahaan, dalam hal ini keberlangsung perusahaan dan perolehan laba. Laba merupakan akibat dari kinerja yang baik. Keberlangsungan atau prospek perusahaan dan laba akan mempengaruhi harga dari perusahaan tersebut pasar saham, sehingga terjadi efisinsi. Prospek perusahaan bagus dan dan perolehan laba perusahaan yang cenderung meningkat akan meningkatkan harga saham, maka dalam hal ini laba dapat dikatakan sebagai salah satu alat pengukur kinerja perusahaan.

2. Laba Mengukur Kinerja Perusahaan  Pada Perusahaan Dengan Struktur Pasar Oligipoli.


Oligopoli tanpa kesepakatan

Laba pada oligopoly tanpa kesepakatan
  

Persaingan pada pasar oligopoli sangat ketat, hal ini terutama dikarenakan sudah terjadi persaingan harga, selain sudah barang tentu persaingan dalam kualitas barang promosi barang dan lain sebagainya. Persaingan harga barang diantara pesaing didalam pasar oligopoly sangat berat, hal ini yang menyebabkan terjadinya efesinsi penggunaan sumberdaya dan kinerja perusahaan dengan tujuan menyingkirkan pesaing dan pada akhirnya memaksimalkan laba. Dalam hai ini  dapat diambil suatu kesimpulan bahwa laba merupakan alat ukur kinerja perusahaan.

3. Laba Tidak Mengukur Kinerja Perusahaan  Pada Perusahaan Dengan Struktur monopoli, pasar persaingan sempurna,oligopoly dengan kesepakatan ( kartel)
3.1 Monopoli.

Laba pada monopoli
  
Perusahaan pada pasar monopoli merupakan price maker sedangkan pembeli merupakan price taker, hal ini terjadi karena perusahaan tidak mempunyai saingan sehingga dapat menetapkan harga semau perusahaan. Disisi lain pembeli dipaksa untuk membeli produk dengan harga yang sudah ditetapkan produsen hal ini dapat terjadi karena tidak ada alternatif pilihan produk. Kondisi seperti ini menyebabkan perusahaan tidak efisien, sebab tidak efisienpun produk dari peruahaan sudah pasti dibeli kosumen dan sudah barang tentu perusahaan akan selalu mendapatkan laba. Dalam hai ini dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa laba tidak dapat mengukur kinerja perusahaan.

3.2 Pasar Persaingan Sempurna

Laba pada persaingan sempurna


Pada pasar persaingan sempurna, produk yang ditawarkan pada konsumen sifatnya homogen. Pengetahuan produsen atas barang dan pasar sama baiknya dengan pengetahuan konsumen atas barang dan pasar. Semua perusahaan merupakan price taker, semua pembeli juga price taker. Harga ditentukan oleh agregat permintaan dan agregat penawaran. Dengan demikian harga barang akan cenderung sama bagi semua produsen. Bagi konsumen, konsumen tidak dapat membedakan satu produk buatan produsen “ini” dan produk buatan produsen “itu”, karena produk homogen tidak lagi dapat dibedakan oleh merk, corak, tipe atau semacamnya. Hal ini disebabkan juga karena pengetahuan konsumen atas barang sama baiknya dengan pengetahuan produsen. Dalam hai ini dapat lah dikatakan bahwa laba tidak lagi menjadi alat ukur kinerja perusahaan.

3.3 Oligopoly Dengan Kesepakatan (Kartel ).

Oligipoli dengan kesepakatan ( Kartel )


Laba oligopoly – kartel sama dengan monopoli
  

Oligopoli bisa juga disebut dengan competition among the few, dimana  perusahaan yang ada pada struktur pasar ini sedikit, tetapi merupakan perusahaan besar-besar, hal ini karena untuk masuk  keindustri dalam pasar oligopoli dan bertahan bertahan didalam industry tersebut perusahaan mengalami hambatan yang besar. Jika perusahaan – perusahaan yang ada didalam pasar membentuk kesepakatan berdasarkan kuota dan bersama – sama membetuk suatu kartel, maka kartel ini menjelma menjadi monolpoli. Ketika pasar sudah menjelma menjadi  pasar monopoli maka perusahaan tidak akan efisien, karena perusahaan selalu akan mendapatkan untung, dengan demikian laba tidak lagi merupakan alat ukur kinerja perusahaan.

Bagaimana pendapat anda ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini